|
Hawa dingin di pagi buta ini
setelah hujan yang mengguyur kota Yogyakarta semalaman pasti membuat semua orang enggan beranjak
dari tempat tidurnya. Kami semua pagi ini sangat rindu untuk kembali mancal
kemul alias kembali tidur. Namun karena pagi itu Letto harus memulai
perjalanan ke Kota Sidoarjo Jawa Timur, maka dengan penuh bersemangat semua
awak Letto segera berkemas dan berangkat ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Kami semua sangat menyadari bahwa penampilan kami malam nanti bukanlah show
biasa, akan tetapi kami akan menghibur masyarakat yang betul-betul sedang
berada dalam musibah yang barangkali tidak semua orang dapat kuat
menghadapinya. Sedangkan dalam penampilan nanti malam, Letto juga akan
berkolaborasi bersama Cak Nun, mbak Novia Kolopaking, serta "Bapak Musikal nya
Letto", Kiai Kanjeng.
Tepat pukul 06.00 WIB kita
sudah duduk di dalam pesawat yang akan membawa kita menuju Sidoarjo via Surabaya. Satu jam kita
menempuh perjalanan udara, dan saat kita tiba di Bandara Juanda Surabaya. Dipintu kedatangan
Bandara Juanda kami telah ditunggu oleh panitia yang kompak berpakaian hitam
hitam-hitam dengan tulisan "Sidoarjo Bangkit" dibagian dada kirinya. Selanjutnya
tim Juru Ngelu segera meluncur ke venue untuk sound check, sementara sebagian
rombongan lainnya langsung menuju ke hotel untuk beristirahat.
Saat rombongan yang di
komandoi oleh Patub tiba di venue, Tim Juru Ngelu segera memasang dan
menyiapkan alat serta mengatur control sound yang sudah ada, karena pada saat
itu juga alat-alat musik milik Kiai Kanjeng sudah terpasang, tinggal sound check
saja. Walaupun panas terik Matahari yang sangat menyengat, tidak membuat kita
patah semangat untuk terus membenahi dan
menyiapkan semuanya dengan baik. Setelah semua "peralatan perang" Letto
terpasang dengan baik, segera dimulailah sound check yang berakhir menjelang
siang hari.
Setelah sound check selesai,
seluruh rombongan segera meluncur ke Hotel untuk beristirahat dan memulihkan
tenaga supaya nanti malam semua team Letto bisa powerfull dan dapat memberikan
yang terbaik bagi seluruh penonton yang hadir.
Workshop Sastra
Sementara team Letto
beristirahat, vokalis Letto Noe diundang sebagai pembicara dalam Workshop Sastra
Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Acara yang diselenggarakan oleh SMA I
Sidoarjo ini ternyata dihadiri oleh banyak pelajar. Antusiasme para pelajar
tampak dari respon mereka yang cukup besar. Ketika dibuka sesi pertanyaan,
mereka berebut untuk tampil dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang cukup
berbobot kepada Noe. Ada
satu pertanyaan yang cukup menarik diajukan oleh salah seorang pelajar, yaitu
menurut mereka lagu-lagu Letto sarat dengan kandungan sastra yang luar biasa.
Bagaimana cara membuat lagu yang seperti itu. Dengan rendah hati Noe menjawab
bahwa sebuah karya, baik itu berupa lagu atau apapun hanya dapat dinilai
kandungan sastranya oleh orang lain. Artinya setelah ada pengakuan dari orang
lain barulah karya tersebut dapat dikategorikan sastra ataupun tidak. Sementara
dalam pembuatan lagu, menurut Noe adalah bagaimana kita dapat menyatu dalam
sebuah kejadian-kejadian yang kita anggap penting. Noe memberikan sebuah contoh
seperti ini:
"Misalnya dalam lagu Letto
yang berjudul Memiliki Kehilangan
terinspirasi dari kejadian kehilangan handphone. Momen itu membuat saya
berfikir kenapa saya begitu menyesal telah kehilangan sebuah handphone, padahal
dulu ketika saya tidak memiliki handphone tidak ada masalah. Maka kemudian saya
berpendapat bahwa rasa kehilangan itu hanya akan ada bila merasa memilikinya.
Maka jadilah itu sebuah lagu. Sesederhana itu", jelas Noe.
Acara workshop itu berjalan
dengan sangat baik dan dinamis, sehingga acara yang seharusnya berakhir pada
pukul 15.00 WIB itu molor hingga pukul 16.30 WIB. Segera setelah acara berakhir
Noe bergegas untuk segera kembali ke Hotel guna mempersiapkan acara nanti
malam. Para siswa yang menghadang untuk minta
kenang-kenangan photo bersama Noe pun sebagian terpaksa harus gigit jari karena
keterbatasan waktu yang sangat mendesak.
Noe tiba di Hotel pukul
17.00. itu berarti Noe cuma punya waktu 1 jam untuk beristirahat karena pada
pukul 18.00 harus segera meluncur ke Pendopo Kabupaten Sidoarjo untuk makan
malam bersama muspida Kabupaten Sidoarjo. Namun tak urung rasa capek yang luar
biasa membuat Noe segera terhempas ke ranjang hotel dan tertidur.
Musibah Tak Terduga
Pukul 18.00 seluruh rombongan Letto telah bersiap di lobby hotel untuk menunaikan kewajiban menghibur penonton dalam acara Ulang Tahun Sidoarjo ke 149 tahun. Namun ada hal yang meresahkan, yaitu turunnya hujan yang luar biasa lebat. Sang manager segera melakukan kontak ke venue tentang situasi disana. Apa yang kami takutkan ternyata benar-benar terjadi. Kondisi di venue ternyata lebih parah daripada di hotel tempat kami menginap. Stadion Delta tempat akan dilangsungkannya acara hujan sangat lebat. Dan tidak ada pilihan bagi kru Letto yang ada disana
kecuali harus mengemasi peralatan yang ada dipanggung. Karena bila tidak
dikemasi peralatan Letto dijamin akan menjadi korban alias rusak terkena air. Dari
hotel kami merasa sangat sulit acara itu akan terlaksana dengan baik. Dengan
sisa-sisa kebaikan yang kami miliki (mudah-mudahan ada....), kami hanya bisa berdoa semoga Tuhan
menyelamatkan keinginan kami untuk menghibur masyarakat Sidoarjo malam ini
karena menurut informasi yang kami peroleh, bahwa malam ini warga masyarakat
korban Lumpur Sidoarjo akan hadir pada acara Ulang Tahun Sidoarjo yang ke 149
ini karena didalam acara tersebut terdapat deklarasi yang dilakukan oleh masyarakat
korban Lumpur.
Sepanjang perjalanan menuju pendopo kabupaten Sidoarjo kami melihat tidak ada tanda-tanda hujan berangsur reda. Hingga kami tiba di pendopo kabupatenpun hujan masih terus membasahi kota Sidoarjo. Sembari makan malam, kami terus menunggu kepastian dari panitia tentang kepastian acara
yang akan berlangsung malam ini. Hingga pukul 20.00 wib masih belum ada
kepastian apakah acara akan berlangsung atau tidak.
Pertunjukan Terdasyat Letto
Pukul 20.15 ada berita mengejutkan dari stadion, ternyata stadion telah dihadiri oleh banyak orang yang ingin menghadiri acara tersebut dan tidak berduli mereka harus
berhujan-hujan. Hal ini membuat panitia penyelenggara memutuskan untuk memulai
acara tersebut dengan alasan tidak mungkin mengecewakan para penonton yang
telah hadir. Meskipun kami sangat ingin memberikan hiburan kepada penonton,
namun tak urung berita itu membuat kami cukup shock. Bagaimana mungkin akan
mengadakan sebuah pertunjukan sementara seluruh peralatan sudah dikemasi. Butuh
waktu sekitar 3 jam untuk memasang peralatan beserta chanel secara lengkap.
Sementara penonton tidak mungkin menunggu selama itu. Sungguh pusing kami
dibuatnya.
Sesampainya di venue, disana telah dipenuhi oleh penonton. Letto langsung dibawa menuju panggung. Yang kami saksikan disana sungguh "mengagumkan". Pengunjung memadati depan dan sisi kiri kanan panggung. Sementara dipanggung sendiri, semua peralatan telah dimasukkan
kedalam hard case. Secara akal sehat kami tidak akan dapat melakukan apapun
diatas panggung yang disitu hanya terdapat 3-4 microfon yang hidup. Ah! Tamat
sudah pertunjukan kami malam ini, itu yang kami pikirkan.
Namun barangkali malam ini Tuhan tidak ingin mengecewakan masyarakat Sidoarjo yang telah bersusah payah datang ke stadion dan berhujan-hujan. Malam ini Letto beruntung karena
berkolaborasi dengan Cak Nun yang memiliki komunikasi yang baik dengan
audience. Cak Nun memulai berbicara dengan para penonton. Dan itu memberi kami
kesempatan untuk mempersiapkan diri, meskipun dengan cara yang cukup kalang
kabut. Berlahan tapi pasti Cak Nun mampu "menyihir" penonton dengan
kata-katanya yang dapat memadukan antara ilmu, pengalaman dan canda tawa.
Selama kurang lebih 1 jam masyarakat dapat sejenak melupakan keberadaan Letto
karena tersihir oleh kata-kata Cak Nun.
Setelah kurang lebih satu
jam, Letto memaksakan diri untuk menyatakan siap tampil, meskipun dengan penuh
ketidak-sempurnaan peralatan yang ada. Patub harus berbagi channel guitar
dengan Kiai Kanjeng, Arian terjepit ditempat yang sempit, sementara Dedi harus
rela menabuh drum secara elektronik dengan meminjam keyboard Kiai Kanjeng dan Widi
meminjam keyboard Kiai Kanjeng karena drum dan keyboard Letto sudah di kemas
untuk meghindari hujan. Letto memberanikan diri untuk tampil dengan penuh
percaya diri dan menghibur penonton. Dan ajaib! Pertunjukan malam ini berjalan
dengan sukses. Letto sanggup membawakan lagu-lagu hitsnya. Dan penonton muda
dengan penuh antusias bergoyang hingga selesai. Acarapun berakhir dengan
kepuasan terpancar dari wajah para penonton.
Letto sangat bersyukur malam
ini Tuhan betul-betul telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada
Letto. Bahwa disaat yang sangat kritis dimana pertunjukan tersebut secara umum
dapat dipastikan gagal dapat berhasil dengan sangat luar biasa. Pada kesempatan
ini pula Letto mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada masyarakat
Sidoarjo karena dengan perantara merekalah Letto mendapatkan pengalaman yang
luar biasa dimana kesungguhan, kepasrahan dan doa dapat menciptakan sebuah
kesuksesan mesipun tanpa bantuan peralatan modern yang ada. Sukses selalu untuk
Masyarakat Sidoarjo!
Trackback(0)
 |
Keep up a good work, Letto...Semoga selalu menjadi inspirasi bagi semua orang yang mendengar dan melihat kalian...
It's very inspiring....