Di stasiun, di mana kereta datang dan pergi. Aku berusaha
menyibak apa yang disembunyikan di balik sayu matanya. Ya,
sebentuk rasa takut kehilangan dan enggan berpisah terbaca
jelas di pelupuk mata yang mulai berkaca-kaca itu. Sedari
tadi duduknya juga tak tenang. Berkali-kali dia menengok
ke kiri dan ke kanan, entah apa yang dicarinya. Dan kereta
dari barat pun merapat, para penumpang berhamburan. Kucoba
memecah diam.
“ Kau sudah mantap pergi ke Jogja kan, Dik?” tanyaku.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Mas, sudah
yakin mau ke Jakarta? Mas, benar-benar tidak ingin
memenuhi wasiat Abah dan Umi kita?” dia justru balik
bertanya.
“Dik...bukannya begitu, tapi aku tahu jalan mana yang
harus kutempuh. Jalan terbaik untukku, untuk kita. Biarkan
aku menyusuri lorong-lorong Jakarta dan aku akan
merelekanmu meninggalkan kota ini, menuju Jogja.”
Senyap. Detik-detik merayap. Sunyi. Diam menyelinap
lagi-lagi.
“Tapi kulihat kau masih risau tampaknya. Kau ragu?”
keningku berkerut, pertanyaanku dijawabnya dengan gelengan
kepala.
“Aku takut, Mas,” suaranya parau, tatap matanya kosong.
“Kamu takut Jogja?”
“Bukan, aku takut tak bisa bertemu lagi dengan Mas.
Setelah wafatnya Abah dan Umi, siapa lagi yang kupunya di
dunia ini selain Mas. Aku juga takut, jika-jika Mas tak
lagi bisa melihat purnama. Bukankah Fitha teman Mas yang
di Jakarta itu pernah bercerita demikian? Gedung-gedung
telah menutup langit, katanya. Jika tidak bisa melihat
purnama lagi, Mas pasti akan melupakanku. Aku masih ingat,
setiap malam bulan purnama kita sering duduk di atas batu
besar tepi sungai sambil menatap bulan. Mas, selalu bilang
bahwa aku adalah purnama itu. Yang hanya akan hilang jika
pagi menjelang,” ujarnya seraya terisak.
Kuseka air matanya yang merintik bagai gerimis sore hari.
Disandarkannya kepalanya di bahuku. Kami larut dalam maha
duka yang belum pernah kami alami sebelumnya.
“Sudahlah Dik, tak ada yang perlu kau risaukan. Aku janji,
namamu tak akan pernah lekang dari setiap doa yang kurentang. Toh
lebaran tahun depan, kita masih bisa pulang ke desa.
Menjenguk tempat dimana angin dan embun senantiasa menjaga hari-hari
kita. Nanti kita memetik mawar lagi di hutan belakang
rumah seperti hari kemarin. Atau mungkin kau ingin mencari
ikan sepat kesukaanmu di sungai ujung desa seperti waktu
kita kecil dulu? Tapi pastinya, kita akan pergi ke kaki
bukit tempat kita biasa menangkap capung untuk nyekar di
makam Abah dan Umi kita. Aku akan menyimpan semua
kenangan, Dik,” sungguh-sungguh aku berujar.
Tangisnya semakin sesenggukan. Pelukannya semakin
dirapatkan. Aku membelai rambutnya seolah menyalurkan
kekuatan. Kita memang sering tak berdaya ketika
harus bertemu dengan perpisahan!
“Mas, mengapa kau tak ikut aku saja ke Jogja? Kau tega
membiarkanku berkawan sunyi?”
“Dik, kau sendiri tahu, Lik Satrio selamanya tak akan
pernah menerimaku. Terlebih setelah kejadian yang menimpa
Marino anak sulungnya itu. Dia selalu menuduh akulah
penyebab segalanya. Tinggallah barang beberapa tahun
dengan keluarga Lik Satrio. Mereka masih mau menerimamu
dan kau harus terus melanjutkan sekolah. Kelak jika aku
sudah jadi orang aku akan membawamu kembali ke desa. Kita
akan memulai segalanya dari awal lagi. Saat ini kita tak
ubahnya sedang mengumpulkan melati-melati kecil yang akan
kita rangkai dan kita kalungkan di leher kita esok hari.
Percayalah!”
Lantas kami tenggelam dalam diam. Tapi tangisnya belum
sepenuhnya diam. Peluit kereta yang baru saja datang
menjerit-jerit. Hatinya tak kalah menjerit.
“Itu keretamu datang, naiklah. Sebentar lagi keretaku juga
akan segera datang. Hapus dulu air matamu.”
“Mas...kita akan pergi...kita akan berpisah...” ia seolah
tak percaya.
“Iya, dan kita akan kembali, kita akan bersama-sama lagi,”
tukasku mantap.
Kereta bertolak sudah. Langit tiba-tiba hilang cerah.
Seorang pengamen datang menghampiriku. Petikan gitarnya
mengiringi lagu Permintaan Hati milik Letto yang
dinyanyikannya dengan segenap perasaan. Aku turut
menggumamkan lagu ini bersamanya, lagu yang mungkin juga
sedang disenandungkan Dik Ning dalam kereta.