Letto Blog
A short description about your blog
Tags >> Artikel
|
|
Posted by zakky in Artikel
|
|
Bicara sejarah awal berdirinya Komunitas Ketik, kita tak bisa lepas dari ‘perkawinan ide’ sahabat-sahabat dari MAPK dan SMA Al Islam Solo. Ketika itu mereka satu pandangan untuk membentuk sebuah wadah bagi penulis pelajar kota Solo. Konkret saja, tak banyak teori, mereka mengumpulkan penulis-penulis dari enam SMA di Solo guna membentuk suatu komunitas. Dahaga akan ruang berekspresi dirasakan benar kala itu, yang selanjutnya dideklarasikanlah berdirinya Komunitas KETIK.
|
|
Posted by zakky in Artikel
|
|
Sejujurnya, kesan pertama yang saya tangkap ketika selesai membaca sekuel keempat Laskar Pelangi adalah novel ini tak lebih baik dari tiga novel pendahulunya. Sebab, dari judulnya saja tidak ditemui korelasi yang jelas dengan kandungan novel. Sepertinya hanya ingin membuat pembaca setia Tetralogi Laskar Pelangi penasaran dan bertanya-tanya siapa Maryamah Karpov itu. Pun demikian, secara garis besar, novel ini terasa tuntas, Ikal telah menemukan sesuatu yang mampu mengisi lubang di hatinya: A Ling. Meskipun masih dengan kepawaiannya, Andrea Hirata membebaskan pembaca untuk menebak apa yang akan terjadi setelah Ikal membawa lari dengan A Ling.
|
|
Posted by zakky in Artikel
|
|
Hi everybody, sugeng rawuh di Bumi Reog Ponorogo. Eits, jangan bayangin ngerinya Reog Ponorogo dengan warok-waroknya dulu ya! Kali ini kita akan mengajak anda untuk menelusuri sisi-sisi eksotis Kota Ponorogo, termasuk juga Reog itu sendiri, yang bagi sebagian orang terkesan begitu mistis dan angker. OK great, tak perlu berbasa-basi, langsung saja kita arahkan bahtera imaji kita menuju Kota Reog Ponorogo. Well guys, now it’s time for hang around…!!! Ponorogo Tempo Doeloe Menurut cerita rakyat yang berkembang secara lisan, Pono itu berarti wasis;pinter;mumpuni, sedangkan Rogo artinya jasmani atau tubuh. Pada mulanya, Ponorogo adalah bekas Kademangan Wengker yang dipimpin oleh Ki Demang Suryongalam atau Ki Ageng Kutu. Beliau adalah seorang yang sakti mandraguna lagi pandai ilmu sihir. Muridnya banyak. Yang muda disebut jatil sedangkan yang tua disebut warok. Jika bulan purnama tiba, para murid dilatih beradu kesaktian. Apabila ada yang terluka akibat berlatih dengan senjata tajam, maka oleh Ki Ageng Kutu cukup dijilat saja lukanya lansung sembuh. Tahun 1486, Raden Patah Raja Demak mengangkat Raden Bathoro Katong (putra Raja Majapahit Brawijaya V) sebagai Adipati di daerah antara Gunung Lawu dan Wilis (10 kilometer dari Kademangan Wengker). Diangkat pula SeloAji sebagai patih dan Ki Ageng Mirah sebagai penghulu agama Islam. Ketiga orang ini beserta 40 orang lelaki berangakat kesana untuk melakukan ekspansi dengan membuka hutan. Dengan berdirinya Kadipaten Ponorogo dan Bathoro katong sebagai Adipatinya, membuat Ki Ageng Kutu naik pitam. Terlebih orang-orang yang datang itu beragama Islam, berlainan agama dengan penduduk lama yang mayoritas beragama Hindu, Budha dan Brahma. Ki Ageng Kutu selalu berusaha merintangi jalannya pemerintahan dan agama baru yang diajarkan itu. Pada suatu kesempatan, tepatnya hari Jumat, Ki Ageng Kutu beserta pasukannya menyerang Raden Bathoro Katong. Akan tetapi atas izin dan pertolongan Allah, Ponorogo tidak bisa dijatuhkan. Bahkan Ki Ageng Kutu beserta prajuritnya mundur dengan menanggung kekelahan. Raden Bathoro Katong diwisuda sebagai Adipati Ponorogo pada tanggal 11 Agustus 1496 Masehi bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 901 Hijriah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Ponorogo. Reog: The Phenomenal
Terminologi Reog dan Ponorogo adalah dua padanan kata yang tak mungkin dipisahkan. Tatkala orang menyebut Ponorogo, maka yang muncul dibenaknya adalah gambaran kesenian Reog yang indah dan memikat. Begitu pula saat menyaksikan Reog, maka orang yang lantas teringat daerah asal kesenian tertsebut, yakni Ponorogo. Kesenian Reog ini berawal dari perjalanan Prabu Kelana Sewandana (Raja Kerajaan Bantarangin) dalam mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit dan patihnya yang setia, Bujangganong. Ketika pilihan Sang Prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit. Sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila Prabu Kelana Sewandana dapat menciptakan sebuah pertujukan kesenian baru yang dapat menghibur hatinya. Maka terciptalah Reog Ponorogo. Reog modern biasanya dipentaskan dalam berbagai peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Adapun yang ajeg dan kontinyu adalah setiap malam bulan purnama serta Festival Reog Nasional dalam rangkaian acara Grebeg Suro setiap tanggal 1 Muharam. Seni Reog terdiri dari beberapa rangkaian. Rangkaian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 orang pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka yang dipoles warna merah. Berikutnya adalah tari Jaran Kepang, yang diperankan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda-kudaan. Adegan terakhir adalah adegan Singa Barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 60-80 kg. Topeng yang berat ini dibawa penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain dip[eroleh dari latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. Banyak sudah sumbangsih yang diberikan kesenian Reog ini dalam mengharumkan nama kota Ponorogo. Pada tanggal 26 Februarai 2003 (puncak acara Grebeg Suro 2003), sebanyak 127 grup Reog secara bersama-sama unjuk kebolehan di hadapan ratusan ribu pasang mata. Karena baru pertama kali terjadi di Indonesia, maka tak ayal atraksi spektakuler ini tercatat di MURI. Juga pada tanggal 1 Juli 1997, Reog Ponorogo terpilih sebagai satu-satunya duta seni Indonesia guna memperingati kembalinya negara Hongkong ke pangkuan Cina setelah 150 tahun lamanya berada dalam kekuasaan kerajaan Inggris. Yang Mak Nyus dari Kota Reog
Apabila anda memiliki kesempatan untuk mengunjungi Kota Ponorogo, jangan lewatkan untuk mencicipi lezatnya Sate Ayam Ponorogo dan Es Dawet Jabung. Keduanya sudah tak asing lagi bagi warga Ponorogo. Karena merupakan makanan khas Ponorogo yang menjadi kebanggaan masyarakat. Untuk Sate Ayam Ponorogo yang paling mashur adalah Sate Ayam Ponorogo Pak Tukri Sobikun. Sedangkan untuk Es Dawet Jabung yang paling rame dikunjungi karena terkenal kelezatannya adalah Es Dawet Jabung Mbak Yati. Sate ayam Ponorogo tidak sama dengan sate ayam Madura atau sate ayam daerah lain. Dalam satu piring sate ayam ponorogo, anda dapat menemukan sate daging bersama dengan sate usus, kulit dan telur ayam muda. Daging ayamnya sendiri sangat empuk. Rahasianya ada pada cara memotong dagingnya. Dagingnya tidak dipotong menyerupai dadu, seperti sate ayam pada umunya, akan tetapi disayat tipis menyerupai fillet, sehingga selain lebih empuk, gajih atau lemak pada dagingnya dapat disisihkan. Es Dawet Jabung juga tak sama dengan es dawet biasanya. Ada semacam kekhasan rasa yang hadir dari perpaduan santan, cendol, gempol dan legen yang tidak akan anda temui selain di Es Dawet Jabung ini. Ketika para pelancong mengunjungi Ponorogo, mereka pasti tidak akan melewatkan sajian yang satu ini. Sebab selain kelezatannya terjamin, harganya pun juga ekonomis. Untuk mendapatkan Sate Ayam Ponorogo dengan mudah, anda dapat mengunjungi Gang Sate. Gang Sate adalah nama sebuah gang dimana puluhan pengusaha Sate Ayam Ponorogo bertempat tinggal. Letaknya sekitar 2 km dari pusat kota. Dan untuk mendapatkan Es Dawet jabung yang masih orisinil, anda dapat berkunjung ke desa Jabung, letaknya kurang lebih 3 km dari Pondok Pesantren Gontor. Jadi apabila anda pergi ke Pondok Gontor dari arah Kota Ponorogo, anda pasti melewati sentra Es Dawet Jabung ini. Selamat mencoba. Telaga Ngebel, Pesona Panorama Alam dalam Balutan Mitos Salah satu objek wisata di Ponorogo yang tak pernah sepi pengunjung adalah Telaga Ngebel. Telaga yang mampu menampung air sebanyak 79.960.000 m3 ini selain berfungsi sebagai objek wisata juga berfungsi sebagai waduk dan pembangkit listrik. Telaga Ngebel terletak di kaki Gunung Wilis. Perlu waktu 1,5 jam berkendaraan dari pusat kota untuk mencapainya. Objek wisata ini juga ditunjang dengan produk pertanian setempat, khususnya hortikultura seperti durian, alpukat, dan nagka. Pemerintah kabupaten sendiri mulai melakukan upaya renovasi Pesanggrahan Ngebel (villa dan resort), serta menyelenggarakan even-even atraksi wisata. Tentunya dalam rangka untuk menyedot wisatawan dalam jumlah yang lebih besar. Sayangnya budaya larung sesaji masih terus dilestarikan setiap malam 1 Suro di telaga ini. Meski tak bisa dipungkiri bahwa budaya inilah yang banyak menyedot wisatawan baik domestik atau mancanegaara. Ritualnya, seekor kambing kedit disembelih pada malam 1 Suro. Darahnya yang ditampung di kain putih kemudian dihanyutkan ke muara telaga. Sedang kepalanya yang sudah dimasak dilarung ke tengah telaga. Adapun kakinya akan ditanam di tempat-tempat keramat di sekeliling telaga. OK, sampai di sini dulu ya jalan-jalan kita di Kota Reog Ponorogo. Sebenarnya masih banyak tempat-tempat lain yang layak untuk dikunjungi. Seperti Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor yang telah menelurkan banyak cendikiawan semisal Emha Ainun Najib dan Hidayat Nur Wahid. Ada juga Patung Sapta Macan di Taman Kota dan masih banyak lagi. The last but not least, selalu cintailah budaya bangsa! Lawan setiap bentuk pencurian budaya! WELCOME TO THE HOME LAND OF REOG... Solo The Spirit Of Java, 25 Agustus 2007
tulisan ini diimuat di Majalah Inthilaq (majalah sekolah MAPK Solo, juara 3 Lomba Majalah Sekolah se-Jawa Tengah 2008) dan didedikasikan untuk: Embun Setetes (yang selalu dingin di setiap gersang hembusan)
|
|
Posted by zakky in Artikel
|
|
Sahabat, inilah artikelku yang pernah jadi juara 2. Bentuk keprihatinanku terhadap remaja kota Solo. Selamat menikmati. REMAJA SOLO HARUS MELEK BUDAYAApabila mencermati perkembangan remaja akhir-akhir ini, terutama di Kota Solo, kita patut mengelus dada. Remaja Solo telah hilang Solo-nya. Segala bentuk modernisasi mereka telan mentah-mentah tanpa filterisasi. Hal ini terlihat jelas dari gaya hidup mereka yang semakin jauh meninggalkan budaya luhur masyarakat Jawa. Kian hari makin kecil saja persentase remaja yang masih memperhatikan subosito atau tata krama Jawa yang tercermin dari tutur kata dan perilaku mereka. Ini baru sebatas kasat mata. Jika kita korek lebih dalam, kita akan semakin miris dengan “kebutaan” remaja Solo akan khazanah budaya daerahnya sendiri. Coba saja kita cari beberapa remaja asli Solo, kemudian kita minta untuk membaca aksara Jawa. Atau kita suruh untuk berbicara dengan bahasa krama inggil. Atau mungkin menyanyikan salah satu langgam Jawa. Bisa dipastikan yang melakukannya dengan baik dan benar dapat dihitung dengan jari.
|
|
Posted by zakky in Artikel
|
|
Kawan, aku punya pengalaman menarik ketika SMA di Solo. Waktu itu aku mengikuti Lomba Menulis Esai bersama temanku, Amin Rais. Banyak ide-ideku yang coba dia adopsi jadi sebuah tulisan. Tak dinyana dia dapat juara 1. Inilah karyanya: MELESTARIKAN KULINER SOLO Tak dipungkiri, Solo sebagai salah satu kota yang masuk dalam jajaran World Heritage Cities serta ditunjuk menjadi tuan rumah World Congress of the Organization of Heritages Cities bulan Oktober mendatang adalah kota yang kaya akan khazanah budaya. Selain batik, musik keroncong, keris, wayang serta beberapa kawasan heritage semisal Pura Mangkunegaran, Keraton Kasunanan Surakarta, Balekambang, Kampung Batik Laweyan dan Kauman, Solo juga memiliki kuliner khas yang mempunyai daya tarik tersendiri. Sebut saja nasi liwet, timlo, pecel ndeso, srabi Solo serta tak ketinggalan HIK (Hidangan Istimewa Kampung), ikon kuliner Kota Solo. Daya tarik kuliner khas Solo bukan sekadar omong kosong. Bisa kita lihat di tempat-tempat yang menyediakan kuliner khas Solo selalu ramai diserbu pengunjung. Bahkan beberapa tokoh kenamaan negeri ini senantiasa menyempatkan diri mampir di kedai-kedai kuliner favorit mereka ketika mengunjungi Solo. Seperti Pak Harto (mantan Presiden RI) dan Mbak Tutut yang gemar menyantap Sate Kambing Mbok Galak di Jalan Ki Mangun Sarkoro. Ada juga Chrisye dan Gus Dur yang gandrung dengan Timlo Sastro. Atau Dono Warkop dan WS Rendra dengan Selat Solo Mbak Lies kegemaran mereka. Acara-acara kuliner di berbagai stasiun televisi pun tak jarang menyambangi Solo guna mencicipi lezatnya kuliner Kota Bengawan ini. Wajar jika banyak orang jatuh cinta dengan kuliner Solo. Sebab selain cita rasanya yang berbeda dari kuliner daerah lain, beberapa kuliner Solo memiliki sisi historis yang unik. Nasi liwet misalnya. Konon, makanan yang terdiri dari nasi putih gurih, irisan daging ayam, sambal goreng labu siam, kumut (santan kental) dan telur kukus ini adalah menu Keraton Kasunanan, makanan raja-raja Solo. Resepnya diwariskan turun temurun dan telah berusia ratusan tahun. Seiring berjalannya waktu, nasi liwet pun bisa dinikmati masyarakat luas. Bila benar demikian, tentu
"DHEDOOOOT...!! "Yah.., waktunya habis!!" Celetuk temanku di kelas saat ada teman lain kelamaa jawab pertanyaan Dosen. Mendengar itu Aq mengingat sesuatu. "Kayaknya pernah denger.." Hehehe.. Ternyat nama drummer-nya Letto. Penggebuk White Sakura yang banyak digilai cewek2. (gila dalam konteks bahasa indonesia ya, bukan gila dalam bahasa jawa, hehehe) Yap, namanya mirip dengan nada di kuis-kuis, yang biasanya buat tanda kalo waktu sudah habis atau jawabanya salah. Karena kalo bener biasanya bunyinya "Trwiiiii..iing"
Kita tidak bisa menyetir hati orang. Itu pasti. Saya pernah diminta masuk ke dalam sebuah komunitas untuk membenahi sesuatu di dalamnya. Sejak awal saya menginjakkan kaki di sana, aroma permusuhan langsung menguar. Sama sekali tak ada tatapan bersahabat, apalagi senyum. Bicara pun ketus, meski saya sudah bicara selembut dan serapi mungkin. kesal? ya, tentu saja. Jengkel? ya tentu. Tapi..pikir saya kemudian, haruskah saya marah pada mereka yang bersikap demikian ataukah saya perlu memilah-milah, mana yang patut saya jengkeli, mana yang tidak.
Saya ingat, waktu masih sekolah dulu punya seorang teman bernama Rima. Orangnya baik, pintar, setia kawan dan selalu gembira. Rima selalu bisa menertawakan berbagai lelucon. Ia juga bisa menceritakan berbagai kisah lucu. Yang asyiknya, saat ujian dia tidak pernah pelit. Dia selalu mau berbagi jawaban. Karena itu tak mengherankan, setiap akan ujian kami semua berebut-rebut duduk di dekatnya. Saat ujian Rima selalu tampil sebagai pahlawan.
Akhirnya..... Selamat datang di LettoBlog! Salah satu fitur baru dimana teman-teman plettonic bisa menuliskan apapun! Artikel, puisi, uneg-uneg, dan pokoknya apapun yang ada di hati dan pikiran masing-masing. CURHAT juga tak dilarang disini!
Di suatu siang yang panas, tiba-tiba saja teman sekost saya yang tinggal di kamar ujung lorong masuk. Wajahnya tak terlihat hepi. Matanya tak bercahaya. Sepintas saya tahu, di hatinya tengah menggunung beban. Ia duduk di tempat tidur. Tak bicara. Saya pun segan membuka percakapan.
|
pLettonic Stats
| 2758 registered | | 0 today | | 1 this month |
|