|
Jul 27
2010
|
cerpen: Abraham Zakky Zulhazmi
Penyanyi dangdut kita itu akhirnya mencalonkan diri sebagai wakil bupati. Di kota kecil yang tidak terkenal ini namanya telah kondang, hingga ke pelosok-pelosok. Masyarakat lebih akrab dengan namanya daripada nama bapak-bapak anggota dewan atau menteri yang kerap muncul di televisi akhir-akhir ini.
Niscaya tidak akan ada kehebohan jika penyanyi dangdut kita ini maju sebagai calon wakil bupati. Ia tak seperti penyanyi dangdut yang sering tampil di film-film horor atau komedi berbau porno itu. Ketika menyanyi yang dijual bukanlah tubuhnya, tapi suaranya. Bisa kita dengar cengkoknya yang pas saat menyanyi dangdut, bak penyanyi senior.
Hari itu adalah sehari sebelum penyanyi dangdut kita memutuskan untuk mencalonkan diri, mendampingi seorang pengusaha kaya mantan aktivis kampus. Di rumah kontrakannya yang sederhana penyanyi dangdut kita menerima dua orang tamu berpenampilan necis. Siapa lagi jika bukan perwakilan dari partai pengusungnya.
”Bagaimana, Mbak? Sudah yakin kan untuk mencalonkan diri sebagai wakil bupati?” tanya salah seorang perwakilan partai. Penyanyi dangdut kita gugup. Ia memilih mengubah posisi duduk ketimbang menghela napas panjang untuk mengurangi ketegangan.
”Jujur, Mas, sebenarnya saya belum terlalu siap.” Berkata demikian ia dengan membayangkan sebuah konser dangdut besar yang meriah. Di sana ia menjadi biduan yang menyita perhatian ratusan pasang mata. Bajunya yang gemerlap. Panggung yang megah. Musik yang hingar. Goyangan yang bikin geregetan. Tatap mata nakal pemuda-perjaka. Sorot mata penuh birahi penonton mabuk. Saweran yang dilempar tak henti. Oh, penyanyi dangdut kita belum siap meninggalkan itu semua. Meninggalkan dunia yang membesarkannya.
”Apa lagi yang masih membuat Mbakyu ragu?”
”Saya belum siap meninggalkan panggung, Mas,” ujar penyanyi dangdut kita.
”Ealah, Mbakyu ini lho, kalau sampeyan nanti terpilih, pasti jauh lebih terkenal dari pada waktu masih joged di panggung. Juga jangan lupa, gaji wakil bupati itu gede lho, belum lagi fasilitas-fasilitasnya.” Perwakilan partai pengusung berjuang meyakinkan penyanyi dangdut kita.
”Lalu, bagaimana dengan pendidikan saya? Saya ini cuma tamatan SMA, Mas,” kilah penyanyi dangdut kita.
”Kan sudah saya bilang dari kemarin-kemarin, sekarang itu gelar gampang didapat. Nanti kami beli ijazah buat Mbakyu deh. Sampeyan mau gelar apa? SH, S.Sos atau SE? Tapi jangan S.Ag lho ya, kayaknya sampeyan kurang cocok kalau pakai gelar S.Ag.”
Penyanyi dangdut kita tersenyum. Tipis tapi manis. Perwakilan partai juga ikut meringis. Miris.
”Pokoknya, kalau sampeyan sudah mantab hubungi kami. Biar kami bisa bergerak cepat. Menyiapkan segala sesuatu untuk membentuk citra baik sampeyan dan bapak calon bupati,” perwakilan partai berdehem, lalu lanjut bicara, ”Sampeyan cocok kok berpasangan dengan beliau. Sampeyan itu masih muda, cantik dan terkenal, sedang beliau gagah, berwibawa, dan ganteng.”
***
Hari itu adalah sehari sebelum penyanyi dangdut kita memutuskan untuk mencalonkan diri, mendampingi bapak calon bupati yang istrinya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Sedari tadi ia mematut diri di depan cermin. Hatinya seolah ingin bertanya pada cermin yang bisu. Wahai cermin, apakah aku sudah tidak secantik ketika aku masih muda dulu, ketika suamiku tergila-gila?
Ketika hujan menjamah tanah dan halilintar bersahutan, istri calon bupati itu nekad keluar rumah. Waktu itu suaminya sedang tidak di rumah. Dibangunkannya sopir pribadi yang tengah tertidur pulas di pos satpam. Tentu saja si sopir tergeragap kaget. Tanpa ba-bi-bu, si sopir menuruti kemauan majikannya.
”Kita ke rumah Simbah!” perintah istri calon bupati.
Siapa yang tidak mengenal Simbah? Seluruh warga di kota kecil ini hampir semunya tahu siapa Simbah. Dialah dukun sakti yang tinggal di kaki bukit selatan kota. Konon kesaktiannya belum ada yang menandingi di tingkat karesidenan.
Dalam perjalanan ke rumah Simbah, istri calon bupati merenung. Terdengar dengus nafasnya yang memburu menahan dendam. Dia selalu bertanya kenapa suaminya tidak menggandengnya saja untuk maju dalam pencalonan bupati-wakil bupati. Tiba-tiba, istri calon bupati ini iseng bertanya kepada sopirnya di depan.
”Pak, aku masih cantik kan? Masih seksi kan?”
Yang ditanya terkesiap bulu kuduknya. Ia hanya mengiyakan.
Sampai di rumah Simbah, sebentuk ketakutan menjalari istri calon bupati dan sopirnya. Bau yang aneh serta benda-benda yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya menjadi ucapan selamat datang yang janggal.
”Apakah benar kedatangan kalian ke sini untuk meminta bantuan mencelakakan seorang penyanyi dangdut?” tanya Simbah mengagetkan keduanya.
”Be..be..benar, Mbah,” istri calon bupati gagap menjawab.
”Aku tidak yakin bisa melakukannya, di belakang penyanyi dangdut itu berdiri seorang dukun yang tak kurang saktinya. Tapi aku akan coba!”
”Apa yang harus kami lakukan, Mbah?”
”Tanam buntelan ini di halaman rumah penyanyi dangdut itu, lalu lihat hasilnya sehari kemudian.”
”Akan kami laksanakan, Mbah. Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami,” kata istri calon bupati sembari mengangsurkan amplop putih.
Simbah hanya manggut-manggut dan berdehem.
Tak ingin membuang waktu, malam itu juga, saat aroma hujan masih begitu terasa, sopir istri calon bupati menanam buntelan. Instruksi langsung dari istri calon wakil bupati.
Tapi, astaga! Ketika buntelan baru akan dimasukkan lubang, tubuh sopir terlempar ke belakang. Satu meter jauhnya. Ia terperangah. Namun belum menyerah. Dicarinya sudut lain dari rumah penyanyi dangdut kita. Setali tiga uang. Beberapa kali tubuhnya terhempas. Sial, bentengnya kuat juga perempuan ini, gumam si sopir.
Kembali ke rumah ia dengan tangan hampa. Dan sangat terkejut ketika pada pagi harinya rumah calon bupati gempar. Istri calon bupati tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ia hanya bisa mengerang kesakitan. Sekujur tubuhnya penuh bintik serupa kutil. Jika satu bintik pecah, maka cairan busuk keluar dan bau bangkai segera menguasai udara. Jijik. Si sopir hampir muntah manakala hendak membopong istri calon bupati. Mau dibawa ke rumah sakit.
Nahas! Tak seorang pun bisa membopongnya. Pun ketika lima orang bersamaan membopongnya. Tidak terangkat. Berat sekali. Seperti lengket. Waktu itu bapak calon bupati sedang rapat partai di luar kota. Orang yang di rumah jelas kelabakan. Berpikir cepat si sopir menuju rumah simbah Simbah.
Dalam waktu yang tidak lama, Simbah sudah sampai di rumah calon wakil bupati.
”Ini teluh kiriman dukun penyanyi dangdut terkutuk itu! Ia bereaksi, tak terima penyanyi dangdut itu kita serang. Aku tak kuat menangkalnya. Namun, ada satu cara sebenarnya untuk sekadar mengusir kutil-kutil busuk itu.”
”Apa itu, Mbah?” tanya sopir.
”Kau cari saudara kandung ibu itu. Bisa kakak atau adiknya. Minta sedikit darahnya, beberapa helai rambutnya, juga kukunya. Tumbuk jadi satu. Tempelkan di kening ibu itu,” simbah berkata dengan keyakinan penuh.
Istri calon bupati meski menahan sakit luar biasa, namun masih bisa mendengar bercakapan dan diajakan bicara, walau terbata-bata. Sejujurnya, keadaan ia kini akan menghadirkan iba kepada siapa saja yang melihatnya.
”Ibu, boleh tahu saudara ibu tinggal di mana? Kata Simbah, hanya saudara kandung ibu yang bisa menyembuhkan.”
Ditunggu beberapa saat istri calon bupati ta kunjung menjawab. Ia meringis kesakitan. Baru ketika sakitnya merada ia angkat bicara.
”A...aku...cu...cuma punya satu saudara kandung. Di...dia a..adalah penyanyi dangdut laknat itu. Di...dia adikku satu-satunya,” ujar istri calon bupati terbata-bata.
Semua yang ada dalam ruangan terkejut. Seolah menemui jalan buntu.
:: dimuat Harian Joglosemar, Minggu 16 Mei 2010


