|
Mulai kita urai di sini, Letto dan Plettonic sebagai wadah generasi muda Nusantara yang harus siap menjadi pendekar keluhuran. Bahasa ini sangat berat, keluhuran bukan hal sepele. Tapi mau tidak mau harus diakui, bahwa kini keluhuran menjadi hal yang sangat mahal nilainya. Tidak hanya sekedar bahwa kuluhuran memiliki konotasi positif namun karena yang kita hirup, yang kita lihat, yang kita sentuh, sekarang ini sudah sangat langka yang bernuansa keluhuran.
Tumbangnya kemanusiaan indikasinya sangat mudah. Ketika tolok ukur kemaslahatan menjadi nomer sekian dan prioritas tujuan dan kebijakan hanya untuk diri sendiri, maka kemanusiaan terjerembab menjadi pelaku budaya rimba. Keadilan tidak jalan, kesejahteraan timpang, peluang tidak merata, yang lemah menjadi santapan yang kuat, hingga pada titik tertentu harapan dan cita-cita tak mampu tumbuh di lahan gersang bernama tipudaya. Semoga bangsa kita tidak seperti itu. Kalau ternyata seperti itu, tentu tidak perlu jabang bayi yang dilahirkan dengan penuh susah payah untuk menjadi manusia ini, perlu meneruskan keterjerembaban ini. Letto bukan manusia hanya bingkai, Plettonic juga hanya sekedar wadah. Tapi Letto harus berperilaku kemanusiaan sebab yang berada di dalam perjalanan dan cita-cita Letto adalah manusia. Plettonic juga harus berbudaya dan berperilaku dengan orintasi kemanusiaan agar manusia-manusia di dalamnya tidak menjadi makhluk rimba yang mengumbar durjana. Begitu juga semestinya wadah dan bingkai-bingkai yang lain. Bila bingkai-bingkai dan wadah selalu diisi oleh bangkai-bangkai bernyawa maka kehidupan mejadi kehilangan nuansa, kehilangan corak dan menebar aroma tak sedap di sana-sini. Sebagai tindakan riil, demi mewujudkan ini Letto dan Plettonic bergandengan tangan memberikan gebrakan budaya. Mungkin banyak dulur-dulur Plettonic yang belum mendengar ini, apakah sebenarnya gebrakan budaya ini? Tunggu tulisan selanjutnya.
Trackback(0)
 |